Friday, May 5, 2017

Argumentasi Terkait Artikel “Duh...Lion Air Tak Punya SOP Manajemen Krisis.

Terkait Artikel “Duh...Lion Air Tak Punya SOP Manajemen Krisis.

1.      MK TEORI KOMUNIKASI.

Teori-teori yang menitikberatkan pada kekuatan audiens dalam menyeleksi informasi yang disampaikan melalui media massa, adalah uses and gratification, uses and effect, serta information seeking.  Dengan menggunakan teor-teori ini, maka audiens yang tidak mempunyai kepentingan dengan Lion Air, bukan pengguna pesawat terbang, tidak akan terpengaruh oleh pemberitaan tentang penundaan jadwal penerbangan besar-besaran yang dilakukan oleh Lion Air. Pilih salah satu teori tersebut, dan berikan argumen Anda.
Teori uses and effects.
·         Kebutuhan informasi hanya sebagai salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya penggunaan media.
·         Merupakan hubungan antara pengguna dan hasilnya dengan memperhitungkan isi media.
·         Penggunaan media hanya dianggap sebagai faktor perantara dan hasil dari proses tersebut dinamakan efek.
·         Penggunaan media merupakan penyebab utama dari hasil, yang disebut konsekuensi.
·         Merupakan conseffects yaitu gabungan antara konsekuensi dan efek. Sebagian dari hasil disebabkan oleh isi yang mendorong pembelajaran (efek) dan sebagian lain merupakan hasil dari suatu proses penggunaan media yang secara otomatis mengakumulasikan dan menyimpan pengetahuan.
Kemungkinan orang-orang yang tidak terpengaruh oleh pemberitaan kasus Lion Air   terkait teori uses & effect yaitu, Direktorat Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara dan Direktur Keamanan Udara serta tim yang melakukan pemeriksaan terkait SOP penanganan situasi krisis.
Direktorat Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara dan Direktur Keamanan Udara serta tim pemeriksa SOP dalam hal ini hanya memiliki kebutuhan sebagai lembaga yang membantu mengevaluasi SOP yang dimiliki oleh Lion Air, agar peristiwa yang merugikan 155.000 pelanggan maskapai tersebut tidak terulang kembali namun tidak memiliki dampak secara langsung terkait masalah penundaan dan pembatalan penerbangan.
Informasi yang disampaikan tentunya mempertimbangkan isi media yang nantinya dikonsumsi oleh publik sehingga citra dan kinerja Direktorat Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara dan Direktur Keamanan Udara serta tim pemeriksa SOP dapat dinilai positif oleh publik. Hal ini merupakan efek yang diharapkan sehingga penggunaan media dalam kasus Lion Air hanya sebagai faktor perantara yang digunakan untuk menginformasikan kepada publik.
Pembentukan tim penanganan SOP merupakan konsekuensi dari efek yang diharapkan, dalam teori uses & effects, hal ini merupakan conseffects dimana hasil dari pemeriksaan tim SOP digunakan sebagai rekomendasi untuk membenahi sistem penanganan krisis Lion Air.
2.      MK PERENCANAAN PROGRAM KOMUNIKASI.

Merencanakan program komunikasi yang tepat dalam menghadapi krisis penundaan dan pembatalan jadwal penerbangan yang dilakukan secara besar-besaran oleh Lion Air adalah dengan mempertimbangkan 3 aspek (peran komunikator, desain pesan dan pilihan media )
Jelaskan ketiga aspek tersebut dan berikan argument Anda,

1)      Aspek Komunikator.
Karakteristik Komunikator :
a.       Komunikator dengan citra diri khalayak.
-          Paternalistik : komunikator berorientasi pada audience/ khalayak.
-          Spesialisasi : komunikator bagian dari khalayak dan tahu pasti kebutuhan        mereka.
-          Profesionalisme : komunikator yang kompeten.
-          Ritualisme : komunikator sebagai alat membangun kebersamaan dengan khalayak.
b.      Komunikator dengan citra diri sendiri.
-          Orinetasi pragmatis : indikator kesuksesan komunikator adalah rating.
-          Orientasi keahlian : pengakuan atas keahlian oleh komunikator lain.
-          Orientasi organisasi : pencapaian visi dan misi organisasi sebagai indicator keberhasilan.
-          Orientasi masyakarat/ lingkungan : jika masyarakat mendapat manfaat dari kerja komunikator.
Aspek komunikator merupakan aspek terkait dengan perencanaan sumber yang perlu mempertimbangankan fungsi pesan yang akan disampaikan, antara lain :
a.       Fungsi sosial
Informasi yang disampaikan dapat diketahui oleh khalayak. Komunikator dalam wacana Lion Air adalah pihak manajemen Lion Air, yang memiliki peran sebagai penganjur (advocacy) atau praktisi humas, dalam usaha mempengaruhi calon penumpang agar dapat memaklumi atau memahami keterlambatan dan penundaan penerbangan di berbagai tempat di Indonesia.

b.      Fungsi ekspresi.
Permohonan maaf dan berjanji mengupayakan perbaikan manajemen dapat disampaikan oleh komunikator. Komunikator dengan citra khalayak (the communicators image of the audience) merupakan komunikator yang tepat dalam memahami keluhan calon penumpang Lion Air, dimana komunikator berorientasi kepada kepentingan khalayak dan memiliki rasa empati terhadap calon penumpang.
c.       Fungsi kontrol.
Fungsi ini adalah upaya mempengaruhi tingkah laku dan pemikiran orang lain sesuai dengan yang diinginkan. Tindakan yang dilakukan bersifat persuasif yang merupakan upaya Lion Air agar peristiwa yang terjadi tidak terus merusak reputasinya dimata calon penumpang maupun dimata khalayak luas.
d.      Fungsi informasi.
Memberikan pengetahuan atau informasi sesuai yang dibutuhkan juga merupakan aspek komunikator yang tepat sehingga calon penumpang dapat memahami situasi yang dihadapi oleh Lion Air, selain itu Dirjen Perhubungan selaku lembaga atau organisasi yang ditunjuk untuk membantu juga dapat memberikan hasil pemeriksaannya sehingga bisa memberikan rekomendasinya untuk membenahi sistem penanganan krisis Lion Air.

2)      Aspek Desain Pesan.
Strategi penyusunan pesan terdiri dari
a.       Strategi Merk (branding strategy)
-          Pemilihan nama atau symbol yang mewakili program.
Maskapai penerbangan Lion Air adalah nama maskapai yang digunakan sebagai sarana transportasi udara.
-          Menciptakan kesadaran dan identitas merk.
Agar Lion Air mudah diingat oleh khalayak maka manajemen membuat simbol atau logo yang menjadi ikon dari Lion Air.
-          Membangun postioning merk.
-          Menciptakan citra merk.
-          Membangun kepercayaan.
Ketiga strategi diatas, merupakan langkah yang harus diambil oleh manajemen Lion Air agar maskapai tersebut tetap menjadi maskapai pilihan khalayak. Reputasi yang buruk akibat penundaan dan pembatalan penerbangan dapat diperbaiki dengan desain pesan yang tepat.
Desain pesan yang tepat dalam upaya penyampaian pesan kepada calon penumpang Lion Air adalah dengan menggunakan penyusunan desain pesan eksposisi, yaitu penyusunan pesan dengan menyajikan argumentasi dan materi pendukung.
Agar pesan yang disampaikan dapat diterima sesuai dengan harapan komunikator maka pesan tersebut harus mengandung materi pendukung, misalnya dengan memberikan ilustrasi dari kendala yang terjadi di Lion Air. Ilustrasi dapat disajikan dengan menggunakan unsur visual sehingga memberi pengaruh yang kuat dan persuasif. Selain itu desain pesan juga menggunakan pendekatan emosional dan pendekatan rasional dengan memberikan argumentasi yang menyatakan bahwa manajemen Lion Air siap menerima sanksi apapun sebagai bentuk tanggung jawab terhadap pelanggan.
3)      Aspek Pilihan Media.
Pemilihan media yang dapat dikontrol memberikan jaminan bahwa pesan dapat ditentukan sesuai keinginan perusahaan, dapat ditentukan waktu penyampaian pesan dan pesan dapat dirancang sehingga lebih terjamin keefektifannya. Selain itu pemilihan media juga mempertimbangkan berdasarkan tinggi rendah kemampuannya dalam membawa pesan dan tinggi rendahnya kadar kepercayaan public terhadap media tersebut.
Pilihan penggunaan media massa yang tepat pada wacana Lion Air adalah media elektronik. Hal ini karena media elektronik memiliki cakupan konsumen yang luas sehingga efektif untuk menjangkau semua lapisan masyarakat. sedangkan kekurangannya adalah feedback yang lambat sehingga sulit mendapatkan informasi tanggapan masyarakat tentang upaya yang dilakukan oleh Lion Air.
Untuk mengatasi feedback yang lambat, Lion Air juga dapat mengupayakan langkah penggunaan media lainnya seperti dengan menempatkan media sebagai perantara untuk menemui secara langsung calon penumpang (media one step flow of communication). Misalnya dengan mengadakan konferensi pers terkait penundaan dan pembatalan penerbangan dan upaya perbaikan serta bentuk tanggung jawab yang akan dilakukan.
Media massa memiliki efek atau dampak yang signifikan oleh sebab itu dibutuhkan konfirmasi atau penjelasan dari pihak manajemen Lion Air agar dapat mempersuasif calon penumpang, dalam hal ini media massa sebagai sumber informasi bagi calon penumpang dan juga bagi pihak manajemen (agent necessary for media effects). Dengan strategi ini akan menambah kesempatan pada media untuk memberitakan informasi sesuai sudut pandang pihak manajemen, selain itu komunikator bisa menyentuh emosi sekaligus pola pikir penumpang Lion Air.

3.      MK KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA.

Berdasarkan kajian komunikasi antar budaya, maka komunikasi yang efektif menyangkut aspek keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, kesetaraan, rasa percaya diri, kedekatan, manajemen interaksi, daya ekspresi, berorientasi pada lawan bicara.
Dalam kaitannya dengan wacana, pihak manajemen Lion Air harus mampu mengembangkan komunikasi yang efektif tersebut ketika menghadapi krisis  yang terjadi sehingga krisis tidak berkepanjangan dan semakin menurunkan kredibilitas Lion Air baik di mata penggunanya, masyarakat umum, maupun pemerintah. Seandainya Anda adalah praktisi humas yang mewakili pihak Lion Air, bagaimana Anda menjelaskan aspek keterbukaan terhadap peristiwa tersebut. Jelaskan argemen Anda.

Sebagai praktisi humas yang mewakili pihak manajemen Lion Air saya akan menjelaskan aspek keterbukaan yang ditunjukkan melalui sikap kooperatif manajemen Lion Air kepada tim Direktorat Perhubungan Udara terkait pemeriksaan SOP penanganan situasi krisis. Pihak Lion Air juga telah memenuhi panggilan Kementerian Perhubungan untuk menjelaskan keterlambatan dan pembatalan atas total 567 penerbangan di berbagai daerah di Indonesia sebagai bentuk manajemen interaksi yang serius menangani masalah ini.
Keseriusan manajemen Lion Air mengatasi masalah ini sebagai sikap mendukung, juga ditunjukkan dengan fokus pada penyusunan SOP manajemen krisis agar peristiwa yang merugikan sekitar 155.000 pelanggan maskapai tersebut tidak terulang.
Sikap positif dengan menunjukkan itikad baik dalam menyelesaikan masalah dilakukan manajemen Lion Air dengan duduk bersama pihak PT. Angkasa Pura I dan II untuk menginventarisir kerugian atas kerusakan beberapa fasilitas bandara yang dilakukan oleh para calon penumpang. Lion Air juga berempati dengan membayar kerugian yang mencapai 100 juta.
Sebagai praktisi humas, saya juga menjelaskan bahwa manajemen Lion Air akan membenahi beberapa item dalam sistem penanganan krisis dan melakukan perbaikan dari sisi pelayanan terbaik kepada pelanggan sebagai bentuk rasa percaya diri dari Lion Air, mampu mengatasi kendala dan mencegah kejadian tersebut terulang.
Pendekatan kepada khalayak, calon penumpang dan pemerintah yaitu dengan memberikan informasi sesuai yang dibutuhkan sehingga khalayak dan calon penumpang tetap memilih maskapai Lion Air sebagai transportasi udara yang diandalkan.
Komponen tindakan dalam strategi praktisi humas pada daya ekspresi dapat dilakukan untuk membangun kembali reputasi yang baik, dalam hal ini manajemen Lion Air juga melibatkan khalayak untuk memberikan feedback atas kinerja pelayanan, misalnya dengan menyediakan toll free phone dan website interaktif.
Sebagai praktisi humas, saya juga menerapkan strategi konfrontasi (aktivisme) dalam orientasi pada lawan bicara, yang berfokus pada komunikasi persuasif sehingga akhirnya khalayak memberi apresiasi pada manajemen Lion Air.

4.      MK KOMUNIKASI ORGANISASI.

Iklim mendukung (supportiveness climate) dari suatu organisasi bermakna bahwa organisasi bersifat empati, saling mendukung, saling menghormati, berorientasi pada pemecahan masalah, dan menonjolkan kesamaan. Sebaliknya, iklim bertahan (defensive climate) lebih menitikberatkan pada evaluasi, represif, dan kontrol yang kuat.
Melihat krisis yang terjadi pada Lion Air dan cara Lion Air menangani kasus tersebut, Iklim mendukung ataukah iklim bertahan yang dilakuakn oleh Lion Air  elakan argument Anda terhadap pilihan tresebut!.

Iklim bertahan (defensive climate) bersifat,
·         Evaluasi.
·         Kontrol.
·         Srtategi.
·         Kenetralan.
·         Keunggulan.
·         Kepastian.
Contoh bentuk iklim ini adalah ketika seseorang dinilai/ dikritik/ di evaluasi maka reaksi ilmiah yang akan muncul adalah perasaan terancam. Ketika dian merasa terancam maka kemungkinan dia akan memindahkan kesalahan dengan menyalahkan orang lain atau mengevaluasi orang lain secara negative atau memberikan alas an untuk merasionalkan perilakunya.
Iklim mendukung (supportiveness climate) bersifat,
·         Deskriptif.
·         Orientasi masalah.
·         Spontanitas.
·         Empati.
·         Kesamaan.
·         Provisonalisme.
Dalam menangani kasus tersebut Lion Air menggunakan iklim mendukung (supportiveness climate).
Praktisi humas yang mewakili manajemen Lion Air perlu mendekripsikan atau menjelaskan secara runut kendala yang menyebabkan penundaan dan pembatalan penerbangan, memberikan informasi SOP sebelumnya yang telah dimiliki sebagai upaya pencegahan yang pernah dilakukan. Lion Air sebagai maskapai terpercaya sudah menyiapkan standart operation untuk mencegah berbagai hal yang dapat merugikan penumpang. Kejadian diluar ekspektasi ini sangat disesali oleh Lion Air.
Pemecahan masalah merupakan orientasi kerja Lion Air, tim Direktorat Perhubungan dan Kementerian Perhubungan. Hal ini terkait hasil pemeriksaan yang direkomendasikan tim Direktorat Perhubungan dan Kementerian Perhubungan kepada Lion Air untuk membenahi sistem penanganan krisis.

Secara spontanitas tanpa upaya menyangkal (defensive) menerima pembekuan izin yang dilakukan oleh Kementerian Perhubungan merupakan wujud nyata sikap menghormati Lion Air atas kejadian ini dan untuk menonjolkan sikap kesamaan Lion Air patuh terhadap regulasi yang ditetapkan Kementerian Perhubungan. Sikap saling mendukung juga dilakukan dengan duduk bersama PT. Angkasa Pura I dan II serta mengganti kerugian senilai Rp 100 juta atas kerusakan berbagai fasilitas bandara yang dilakukan oleh calon penumpang.

Rumusan Masalah Artikel "Duh... Lion Air Tak Punya SOP Manajemen Krisis"

Rumusan Masalah terkait artikel / wacana “Duh…Lion Air Tak Punya SOP Manajemen Krisis”


1.      Adanya pemeriksaan mekanisme kerja dan pelayanan Lion Air oleh Direktorat Perhubungan Udara dan Kementerian Perhubungan.
2.      Penerbangan Lion Air mengalami keterlambatan dan pembatalan penerbangan atau delay besar-besaran diberbagai daerah di Indonesia.
3.      Dibentuknya tim pemeriksa oleh Direktur Angkatan Udara, Direktur Kelaikan dan Pengoperasian Udara dan Direktur Keamanan Udara.
4.      Lion Air tidak memiliki SOP Manajemen Krisis.
5.      Kementerian Perhubungan memeriksa dan merekomendasikan sistem penanganan krisis yang diperlukan oleh Lion Air.
6.      Lion Air dimintai penjelasan dan memenuhi panggilan terkait masalah delay yang terjadi dan SOP Manajemen Krisis.
7.      Adanya penghentian penerbitan izin penerbangan baru dan pembekuan izin rute penerbangan yang tidak diterbangi oleh Lion Air.
8.      Bentuk sanksi yang diterima oleh Lion Air dan tanggung jawab Lion Air kepada pelanggan.
9.      Lion Air patuh terhadap regulasi yang ditetapkan dan menjalankan langkah perbaikan dengan monitoring Kementerian Perhubungan.
10.  Lion Air fokus kepada penyusunan SOP Manajemen dan sistem penanganan krisis.

11.  Lion Air bertanggung jawab dan bersedia membayar kerugian kepada Angkasa Pura II atas pengrusakan fasilitas bandara yang dilakukan calon penumpang.

Friday, April 7, 2017

SISTEM PENCEGAHAN KONFLIK SOSIAL

Seruan akan kebutuhan tentang sistem pencegahan konflik menyeruak dalam diskusi buku “Sesuai Perang Komunal” Selasa 20 November lalu di Jakarta (Kompas, 20 November 2012). Keresahan ini bukanlah hadir dari ruang hampa. Dalam dua bulan terakhir sudah terjadi tiga konflik sosial yang menelan 15 korban meninggal, ratusan rumah terbakar, dan ribuan warga lainnya mengungsi. Dua diantaranya berlokasi di Lampung dan satu sisanya terjadi di Bireun, Aceh. Tidak menutup kemungkinan konflik-konflik di tempat lain bahkan di tempat yang sama pun akan terjadi kembali. Terlebih mengingat perangkat hukum tentang konflik sosial hanyalah UU No. 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial (PKS), yang sesuai namanya, masih terfokus pada penanganan konflik dan bukan pada pencegahan konflik.
Urgensi adanya sebuah sistem pencegahan konflik sosial antara lain: (i) untuk mengenali dan menghindari bentuk-bentuk konflik destruktif dan berbagai dampak buruknya, (ii) pencegahan konflik merupakan instrumen yang lebih baik dan efisien dibandingkan upaya resolusi konflik, (iii) untuk mencegah permusuhan laten agar tidak berkembang menjadi manifest, (iv) serta menghalangi terjadinya eskalasi dan kekerasan lanjutan. Dari uraian tersebut terlihat bahwa karakter dasar sistem pencegahan konflik sosial adalah mobilisasi semua sumber daya untuk mencegah konflik bergerak menjadi tindak kekerasan.   
Sistem pencegahan konflik fokus untuk mencegah konflik menjadi kekerasan. Terjadinya konflik menjadi kekerasan terkait erat dengan proses penyelesaian konflik pada awalnya dan hal ini terkait dengan kemampuan pemerintah dan masyarakat untuk menyelesaikan konflik. Oleh karena itu, pencegahan konflik diarahkan untuk menciptakan kondisi yang mendorong penyelesaian konflik secara dini dan meningkatkan kemampuan pemerintah dan masyarakat untuk menyelesaikan konflik sebelum berkembang menjadi kekerasan. Pada dasarnya kerangka kerja pencegahan konflik di Indonesia disusun untuk memperkuat ketahanan masyarakat dan pemerintah dalam mengatasi persoalan sosial-politik-ekonomi agar tidak berkembang menjadi kekerasan. 
Sistem pencegahan konflik atau kerangka kerja pencegahan konflik pada dasarnya adalah sebuah sistem manajemen untuk mengembangkan pengetahuan tentang konflik dan cara-cara pencegahannya. Sumber daya untuk pencegahan konflik tidak lagi terpisah-pisah namun terpusat pada struktur koordinatif yang memobilisasi sumber daya-sumber daya tersebut untuk digunakan secara efektif. Pencegahan konflik bukan merupakan reaksi ad hoc atas persoalan-persoalan konflik. Pencegahan konflik merupakan strategi struktural dan operasional jangka menengah dan panjang yang dilakukan secara proaktif oleh pelbagai aktor untuk mengidentifikasi dan membuat kondisi yang memungkinkan bagi lingkungan aman yang lebih stabil dan terprediksi (Carment dan Schnabel, 2003). 
Upaya pencegahan konflik bisa dilakukan dengan: (1) membangun mekanisme peringatan dini (early warning system) yang memungkinkan setiap institusi memonitor hubungan inter-state, inter-society, dan antara state dan society, (2) membangun atau mengembangkan mekanisme institusional untuk mencegah intensitas eskalasi konflik, (3) memfasilitasi peningkatan kapasitas masyarakat yang rentan konflik. Ketiga metode pencegahan konflik tersebut perlu dikaitkan dengan menurunnya kapasitas kelembagaan lokal, lemahnya kapasitas lembaga negara, dan kebijakan pemerintah yang mengabaikan konteks lokal. Dari hasil sintesa antara faktor penyebab konflik dan  metode pencegahannya maka Tim LIPI merumuskan beberapa pilihan strategis pencegahan konflik (Ju Lan dan Triatmoko, 2012). 
Hasil pemetaan Tim LIPI menyebutkan ada tujuh faktor persoalan strategis yang harus diatasi agar tidak berpotensi menjadi konflik kekerasan sebagai landasan penyusunan kerangka pencegahan konflik yang sedang dikembangkan. Tujuh faktor tersebut antara lain  (1) distorsi kebijakan publik; (2) patologi birokrasi; (3) ketimpangan sosial-ekonomi; (4) perebutan sumber daya dan akses ekonomi; (5) adat, kebudayaan, dan identitas; (6) legal justice; dan  (7) distorsi penanganan keamanan. Kerangka kerja pencegahan konflik terhadap ketujuh faktor tersebut disusun sesuai dengan tahapan konflik yang berbeda yaitu pra konflik, masa konflik, dan pasca konflik dengan mengacu pada kondisi-kondisi: daerah rawan konflik (sering terjadi konflik), daerah yang berpotensi konflik (intensitas konflik dalam skala sedang/menengah), dan daerah normal (tidak pernah atau sangat jarang mengalami konflik). 
Harapan dari penyusunan kerangka kerja pencegahan konflik yang disusun Tim LIPI adalah untuk membekali para pemangku kepentingan dengan sensitifitas terhadap isu-isu konflik dalam setiap perencanaan dan pelaksanaan kebijaka. Kerangka kerja pencegahan konflik juga diharapkan dapat menjadi panduan operasional bagi kerja-kerja pencegahan konflik. Dengan kata lain diharapkan para pemangku kepentingan menguasai manajemen pencegahan dan pengelolaan konflik. 
Praktisi kebijakan seharusnya memiliki kemampuan analisa untuk memastikan validitas dan reliabilitas evaluasi potensi konflik. Sementara itu, kelompok-kelompok masyarakat seperti akademisi, NGO, dan bahkan kelompok private harus memiliki kemampuan mengenali potensi ancaman dan analisa peringatan dini (early warning analysis). Namun tentu saja yang paling penting adalah kembali adanya political will dari pemerintah untuk mengadopsi sistem pencegahan konflik dalam kebijakannya. Tanpanya maka seperangkat konsep ini hanya menjadi basa-basi diskusi dan remah-remah proyek yang tidak berkesudahan. (Yogi Setya Permana)


Monday, April 3, 2017

CATATAN KECIL TEORI KOMUNIKASI


KAMPANYE INOVASI


KOMUNIKASI TEURAPETIK DAN ADVOKASI DALAM ASPEK KOMUNIKASI PERSUASIF

1.      Apakah komunikasi teurapetik dan advokasi termasuk dalam aspek komunikasi persuasif?
2.      Jelaskan dan berikan ilustrasinya.

Pada tugas 3 ini saya akan menjelaskan dan memberikan ilustrasinya satu persatu.

Komunikasi persuasi adalah pesan yang disampaikan kepada persuadee dari persuader  melalui saluran tertentu baik secara langsung maupun tidak langsung dengan maksud memberikan dampak atau efek kepada persuadee sesuai dengan tujuan persuader.                                                                   
Komunikasi teurapetik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar bertujuan untuk kesembuhan pasien. Menurut Northhouse (1982:2) komunikasi teurapetik adalah kemampuan atau keterampilan bidan untuk membantu pasien beradapatsi terhadap stress, mengatasi gangguan psikologis dan belajar berhubungan dengan orang lain.

Komunikasi teurapetik merupakan aspek komunikasi persuasif karena didalamnya mengandung unsur upaya-upaya agar persuadee dalam hal ini adalah pasien, agar tertarik mengikuti keinginan persuader yang pada konteks ini adalah bidan atau perawat, dalam usaha penyembuhan pasien. Komunikasi ini juga mengandung unsur model komunikasi yang disampaikan oleh Lasswel yaitu :
Kata “Who” siapakah yang dituju? pada komunikasi teurapetik adalah pasien yang dituju oleh bidan atau perawat. Merupakan persuade yang mengharapkan bantuan atau pertolongan secara psikologis untuk menghilangkan gangguan adaptasi dilingkungan.
Kata “Says What” ini merupakan pesan. Blake dan Haroldsen (1979) menjelaskan bahwa pesan merupakan simbol yang diarahkan secara selektif yang diperuntukan dalam mengkomunikasikan informasi. Pesan yang diberikan bidan melalui tindakan perawatan merupakan strategi psikodinamika dimana bidan melakukan pendekatan dengan pasien secara emosional agar faktor kognitif pada pasien dapat berubah. Pendekatan kognitif sebagai strategi persuasi menekankan struktur internal jiwa sebagai hasil belajar. Dengan menggunakan pendekatan emosional, pesan persuasif seperti keinginan untuk sembuh dan kembali hidup normal dilingkungan diharapkan akan membangkitkan emosional pasien dengan bentuk-bentuk perilaku tertentu. Essensi dari strategi psikodinamika adalah pesan efektif bersifat mampu mengubah fungsi psikologis individual dalam hal ini adalah pasien agar mau merespon secara terbuka komunikasi persuasif yang disampaikan bidan (persuader).
Kata “In Which Channel”. Pada tahap ini pendekatan dilakukan dengan bentuk hubungan yang diarahkan kepada pertumbuhan pasien, meliputi realisasi diri, penerimaan diri, identitas dan rasa integritas diri yang tinggi, kemampuan membina hubungan interpersonal serta peningkatan fungsi dan kemampuan dilingkungan. Tahap-tahap hubungan teurapetik adalah
·         Fase Prainteraksi
·         Fase Perkenalan
·         Fase Orientasi
·         Fase Kerja
·         Fase Terminasi

Agar materi yang saya sampaikan langsung kepokok pertanyaan yang diajukan maka pada kesempatan ini saya hanya akan menjelaskan fase kerja. Pada fase kerja, bidan meningkatkan saling pengertian dengan pasien agar perencanaan tindakan keperawatan dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Pasien juga diharapkan dapat mengembangkan kemampuan secara mandiri untuk menyelesaikan masalah. Terapi juga merupakan salah satu tahap yang digunakan bidan dalam proses perawatan.
Kata “To Whom” ( penerima/ kepada siapa), hal ini tentunya ditujukan kepada pasien sebagai persuadee. Semua pesan persuasif yang disampaikan bidan ( persuader ) tentunya untuk mengubah perilaku pasien. Pada tahap ini mungkin terdapat hambatan bagi bidan untuk melaksanakan tugasnya. Hambatan ini dapat disebabkan oleh faktor mekanistis dan faktor psikologis seperti yang dikatakan oleh B. Aubrey Fisher dan faktor-faktor hambatan lainnya yang diungkapkan oleh para ahli. Namun bidan dengan keahlian yang dimiliki tentunya dapat mengatasi segala hambatan tersebut.
Kata “With What Effect” adalah dampak/ efek yang terjadi pada pasien setelah menerima pesan atau tindakan dari bidan. Kesembuhan pasien tentunya menjadi prioritas bidan dalam menyelesaikan pekerjaannya. Pada tahap akhir ini pasien dapat kembali membaur dilingkungan tanpa adanya kendala psikologis serta dapat bersosialisasi dimasyarakat.
Menurut  Hopkins ( 1990 ) advokasi adalah usaha untuk mempengaruhi kebijakan publik melalui bermacam-macam bentuk komunikasi persuasif. Hal ini secara jelas menyimpulkan bahwa advokasi merupakan aspek komunikasi persuasif. Menurut ahli retorika ( Foss and Foss 1980 ) advokasi diartikan sebagai upaya persuasi yang mencakup kegiatan penyadaran, rasionalisasi, argumentasi, dan rekomendasi tindak lanjut mengenai sesuatu hal.
Umumnya advokasi digunakan dalam lembaga bantuan hukum yang berfungsi membantu persuadee untuk keluar dari masalah hukum yang membelitnya. Sebagai seorang persuader, advokasi membantu memberikan bukti-bukti untuk meyempurnakan persuasinya dalam lembaga hukum misalnya dipengadilan. Advokasi dapat terjadi tidak hanya dilembaga hukum tetapi juga dibidang kesehatan maka pada bidang kesehatan dapat diartikan sebagai upaya untuk memperoleh pembelaan, bantuan atau dukungan terhadap program kesehatan.
Selain itu juga dalam advokasi diperlukan aspek yang dapat  mendukung keberhasilan komunikasi persuasif yaitu kredibilitas. Persuader yang memiliki kredibilitas yang baik di ‘mata’ persuader menambahkan keyakinan untuk menerima pesan yang disampaikan. Aspek lainnya yang turut mendukung keberhasilan advokasi dalam komunikasi persuasive adalah indentifikasi dan kesamaan. Identifikasi merupakan cara-cara yang dilakukan persuadee dalam mengatasi konflik, frustasi serta kecemasan. Sedangkan kesamaan merupakan tingkat kedekatan tersendiri antara persuadee dengan persuader dalam upaya mendukung keberhasilan advokasi.

Sumber :
Modul UT SKOM 4326
Modul UT SKOM 4314

TEKNIK PERSUASIF DAN KAITANNYA DALAM TUTORIAL ONLINE UT

1. Teknik persuasif apa saja yang Anda ketahui, sebutkan saja!
2. Sebutkan model pengaruh komunikasi persuasif yang Anda terima dari tuton ini!
Beberapa teknik persuasif yang saya ketahui adalah sebagai berikut :
Ø  The Yes- Respons Technique
Teknik yang pertama ini dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan-pertanyaan dengan mengusahakan jawaban ‘ya’ dari persuadee. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan atau mengutarakan semua keinginan dari persuadee. Misalnya Seorang pimpinan perusahaan mengajukan pertanyaan kepada karyawannya, apakah kalian ingin mendapatkan kenaikan gaji, fasilitas tunjangan kesehatan, fasilitas kendaraan serta bonus akhir tahun yang menggiurkan? Maka bekerjalah dengan baik serta kerja keras agar target yang telah ditentukan oleh perusahaan dapat tercapai.
Dengan teknik ini persuadee tidak merasa terbebani karena apa yang akan dilakukannya dengan tujuan memenuhi keinginan mereka.
Ø  Putting It Up To You
Cara yang dilakukan pada teknik ini adalah dengan melakukan pendekatan secara psikologis dengan persuadee atau sasaran. Misalnya saja seorang ibu yang melakukan pendekatan agar buah hatinya tertarik untuk rajin membaca. Dengan pendekatan ini diharapkan sasaran terketuk hatinya untuk mengikuti keinginan dari persuader.
Ø  Stimulated Disenterest
Pimpinan perusahaan menjelaskan resiko dari tidak tercapainya target adalah tidak adanya bonus serta jika tidak mencapai target dalam jangka waktu tertentu maka karyawan tidak akan diperpanjang kontrak kerjanya. Sehingga tercapai atau tidaknya target adalah kebutuhan dari para karyawan. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk contoh dari teknik Stimulated Disenterest. Teknik yang mengusahakan rasa kecemasan, menekan perasaan serta perubahan sikap dari persuadee agar tujuan persuader tercapai. Namun disampaikan seakan-akan yang membutuhkan terjadinya persuasi adalah sasaran itu sendiri.
Ø  Transfer
Transfer adalah lingkungan yang terasa berpengaruh pada hasil yang kita lakukan. Sebelum melakukan persuasi sebaiknya kita memastikan bahwa lingkungan atau tempat tersebut sesuai dengan tema persuasi yang akan dilakukan. Persuasi akan sulit diterima jika persuader tidak memiliki kesamaan tujuan dengan persuadee. Misalnya saja seorang ibu yang melakukan pendekatan kepada anaknya agar minat atau tertarik untuk belajar namun hal tersebut dilakukan ditempat area bermain. Tentunya anak tidak akan tertarik dengan apa yang disampaikan sang ibu karena sudah focus dengan keinginannya untuk bermain.
Ø  Bandwagon Technique
Teknik Bandwagon bertujuan untuk membujuk persuadee dengan cara mengemukakan bahwa setiap orang sebagaimana halnya kita, meyetujui gagasan yang dikemukakan. Contoh dari teknik ini yaitu pada saat seorang pimpinan dalam perusahaan mengatakan bahwa sebelum usahanya maju seperti saat ini, ia merintis dari bawah dengan usaha keras untuk mencapai target yang diharapkan hingga mencapai posisi seperti saat ini. Dengan hal ini karyawan atau persuade merasa tekanan yang diberikan perusahaan, semua pernah mengalaminya termasuk pimpinan perusahaan.
Ø  Say It Flowers
Teknik ini dilakukan dengan cara memberi pujian kepada sasaran atas kepandaian, kecakapan, kemampuan serta kelebihan yang dimiliki oleh persuadee sehingga mereka tertarik dengan persuasi yang dilakukan. Contohnya pujian yang diberikan orang tua karena kepandaian anaknya, pujian yang diberikan pimpinan kepada karyawan yang mencapai target dll.
Ø  The Swap Technique
Ini merupakan teknik barter karena mempunyai kepentingan yang sama dengan pihak persuadee. Pada pemasaran umumnya teknik ini dilakukan sebagai promo-promo yang menarik minat pembeli. Misalnya Setiap pembelian pre order 1 unit handphone akan mendapatkan 1 buah handsfree.
Ø  Reassurance
Tehnik ini merupakan kelanjutan dari teknik Putting It Up To You dan Say It with Flowers. Tetap berusaha menjaga hubungan baik serta kedekatan dengan persuadee sehingga mereka yakin terhadap keputusan atau tindakan yang telah diambil.
Teknik lainnya sebagai berikut :
Ø  Technique of Irritation
Ø  The Yes-yes Tchnique
Ø  Don’t Ask If Ask Which
Ø  Answering A Question with Question
Ø  Getting Partial Commitment
Ø  Ask More, so They Settle for Less
Ø  Getting an IOU
Ø  Appeals to Humor
Ø  Appeals to Sex
Ø  Effect of Repetition

Model pengaruh komunikasi persuasif pada Tuton ini
Menurut saya, model yang digunakan  pada Tuton adalah Model Dua Sumber atau lebih. Model ini merupakan sumber yang jumlahnya lebih dari seorang yang bertindak sebagai komunikator. Walaupun pengirim (encoder) pesan biasanya seseorang yang menyusun isi pesan, tetapi tidak selalu demikian.
Dosen sebagai pemimpin dalam Tuton sebagai pengirim pesan memberikan materi yang akan menjadi topik bahasan bagi mahasiswa. Namun mahasiswa juga aktif sebagai komunikator dengan menyampaikan topik lain yang mungkin dianggap sulit dalam pembelajaran serta mahasiswa lain yang member tanggapan.
Materi yang disampaikan dalam Tuton diharapkan menimbulkan ketertarikan bagi mahasiswa sehingga tertarik untuk mengikuti. Timbal balik atau feed back akan meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang materi yang disajikan.


Sumber :

Modul UT SKOM 4326